INFILTRASI
( Laporan Praktikum Hidrologi Hutan)
Oleh
Audy Evert 1114151010
Faisal Mahdi
Syama 1114151030
Dimas Ramadhan 1114151018
Nugraha M.Malau 1114151047
Selviani
Tiurmasari 1114151061
Sri Winarni 1114151062

FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
BANDAR
LAMPUNG
2013
I.PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Tanah dan air memiliki hubungan yang sangat
erat satu sama lain. Salah satu bentuk hubungan itu ditunjukkan oleh proses
penyediaan air di dalam tanah yang dibutuhkan makhluk hidup. Jumlah sumberdaya
air tidak berubah tetapi jumlah air yang dapat digunakan untuk memenuhi
kebutuhan makhluk hidup semakin terbatas baik ditinjau dari segi kuantitas,
kualitas maupun waktu ketersediaannya.
Kebutuhan makhluk hidup terhadap air begitu
penting dan disadari atau tidak, ketersediaan air semakin berkurang. Jika air
hujan jatuh ke permukaan tanah maka pergerakan air akan diteruskan ke dua arah,
yaitu air limpasan atau aliran permukaan secara horisontal (run-off) dan
air yang bergerak secara vertikal yang disebut air infiltrasi (Arsyad, 2006).
Tersedianya air di dalam tanah tidak terlepas
dari adanya peranan laju infiltrasi. Infiltrasi menyebabkan air merembes masuk
ke dalam tanah melalui permukaan tanah. Air hujan yang jatuh di permukaan tanah
terbuka tanpa adanya tanaman penutup sebagian akan meresap ke dalam tanah, sedangkan
sebagian lagi akan mengisi cekungan-cekungan pada permukaan tanah dan sisanya
merupakan lapisan air pada permukaan tanah yang akan menjadi aliran air
(Arsyad, 2006).
B.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum yang telah
dilakukan adalah
1.
Menganalisis
pengaruh penggunaan lahan dan keadaan fisik tanah terhadap
laju infiltrasi lahan sekitar lapangan bola
Universitas Lampung.
2.
Mengetahui infiltrasi pada pohon yang diamati.
II.TINJAUAN
PUSTAKA
A.Pengertian Infiltrasi
Infiltrasi
adalah proses meresapnya air atau proses meresapnya air dari permukaan tanah
melalui pori-pori tanah. Dari siklus hidrologi, air hujan yang jatuh di
permukaan tanah sebagian akan meresap ke dalam tanah, sabagian akan mengisi
cekungan permukaan dan sisanya merupakan overland flow. Sedangkan yang dimaksud
dengan daya infiltrasi (Fp) adalah laju infiltrasi maksimum yang dimungkinkan,
ditentukan oleh kondisi permukaan termasuk lapisan atas dari tanah. Besarnya daya
infiltrasi dinyatakan dalam mm/jam atau mm/hari. Laju infiltrasi (Fa) adalah
laju infiltrasi yang sesungguhnya terjadi yang dipengaruhi oleh intensitas
hujan dan kapasitas infiltrasi( Anonim.2009).
B.Faktor
yang mempengaruhi Infiltrasi
Laju
infiltrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kedalaman genangan dan tebal
lapis jenuh, kelembaban tanah, pemadatan oleh hujan, tanaman penutup,
intensitas hujan, dan sifat-sifat fisik tanah.
1. Kedalaman
genangan dan tebal lapis jenuh
Kedalaman
genangan di atas permukaan tanah (D) memberikan tinggi tekanan pada
ujung atas tabung, sehingga tinggi tekanan total yang menyebabkan aliran adalah
D+L.
Tahanan
terhadap aliran yang diberikan oleh tanah adalah sebanding dengan tebal lapis
jenuh air L. Pada awal hujan, dimana L adalah kecil dibanding D,
tinggi tekanan adalah besar dibanding tahanan terhadap aliran, sehingga air
masuk ke dalam tanah dengan cepat. Sejalan dengan waktu, L bertambah
panjang sampai melebihi D, sehingga tahanan terhadap aliran semakin
besar. Pada kondisi tersebut kecepatan infiltrasi berkurang. Apabila L
sangat lebih besar daripada D, perubahan L mempunyai pengaruh
yang hampir sama dengan gaya tekanan dan hambatan, sehingga laju infiltrasi
hampir konstan.
2.
Kelembaban tanah
Jumlah
air tanah mempengaruhi kapasitas infiltrasi. Ketika air jatuh pada tanah
kering, permukaan atas dari tanah tersebut menjadi basah, sedang bagian
bawahnya relatif masih kering. Dengan demikian terdapat perbedaan yang besar
dari gaya kapiler antara permukaan atas tanah dan yang ada di bawahnya. Karena
adanya perbedaan tersebut, maka terjadi gaya kapiler yang bekerja sama dengan
gaya berat, sehingga air bergerak ke bawah (infiltrasi) dengan cepat.
Dengan bertambahnya waktu, permukaan bawah tanah menjadi basah, sehingga
perbedaan daya kapiler berkurang, sehingga infiltrasi berkurang. Selain itu,
ketika tanah menjadi basah koloid yang terdapat dalam tanah akan mengembang dan
menutupi pori-pori tanah, sehingga mengurangi kapasitas infiltrasi pada periode
awal hujan.
3. Pemampatan
oleh hujan
Ketika
hujan jatuh di atas tanah, butir tanah mengalami pemadatan oleh butiran air
hujan. Pemadatan tersebut mengurangi pori-pori tanah yang berbutir halus
(seperti lempung), sehingga dapat mengurangi kapasitas infiltrasi. Untuk tanah
pasir, pengaruh tersebut sangat kecil.
4. Penyumbatan
oleh butir halus
Ketika
tanah sangat kering, permukaannya sering terdapat butiran halus. Ketika hujan
turun dan infiltrasi terjadi, butiran halus tersebut terbawa masuk ke dalam
tanah, dan mengisi pori-pori tanah, sehingga mengurangi kapasitas infiltrasi.
5. Tanaman
penutup
Banyaknya
tanaman yang menutupi permukaan tanah, seperti rumput atau hutan, dapat
menaikkan kapasitas infiltrasi tanah tersebut. Dengan adanya tanaman penutup,
air hujan tidak dapat memampatkan tanah, dan juga akan terbentuk lapisan humus
yang dapat menjadi sarang/tempat hidup serangga. Apabila terjadi hujan lapisan
humus mengembang dan lobang-lobang (sarang) yang dibuat serangga akan menjadi
sangat permeabel. Kapasitas infiltrasi bisa jauh lebih besar daripada tanah
yang tanpa penutup tanaman.
6.
Topografi
Kondisi
topografi juga mempengaruhi infiltrasi. Pada lahan dengan kemiringan besar,
aliran permukaan mempunyai kecepatan besar sehingga
air
kekurangan waktu infiltrasi. Akibatnya sebagian besar air hujan menjadi aliran
permukaan. Sebaliknya, pada lahan yang datar air menggenang sehingga mempunyai
waktu cukup banyak untuk infiltrasi.
7. Intensitas
hujan
Intensitas
hujan juga berpengaruh terhadap kapasitas infiltrasi. Jika intensitas hujan I
lebih kecil dari kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi aktual adalah
sama dengan intensitas hujan. Apabila intensitas hujan lebih
besar
dari kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi aktual sama dengan kapasitas
infiltrasi( Triatmojo.2010)
C.Metode
dalam pengukur laju Infiltrasi
a.
Metode Green And Ampt
(1911).
Asumsi yang
dipergunakan: Kelembaban tanah langsung jenuh pada saat pertama kali hujan
jatuh. Di lakukan pada tanah yang berbutir halus.
b.
Metode Philip (1957).
Philips mengembangkan sebuah
persamaan kapasitas infiltrasi berdasarkan Hukum Darcy dilakukan sebuah kolom
tanah lempung. Pada permulaan proses infiltrasi, aliran di sebabkan oleh gaya
kapiler dan dapat ditunjukan dengan persamaan untuk perubahan kapasitas
infiltrasi( Knapp.1987).
D. Jenis tanah terhadap laju infiltrasinya.
1. Jenis tanah Aluvial Kelabu
Laju infiltrasi setiap waktu (instantaneous infiltration rate), yang
menunjukkan kurve hubungan antara laju infiltrasi, IR (cm) dan waktu
pengamatan, T(jam). Setelah pengamatan selama lebih dari 3 jam tanah ini sudah
mulai menunjukkan nilai laju infiltrasi konstan, yakni kira-kira mendekati nilai 50 cm jam-1, yang menurut klasifikasi Booker Agricul-ture
International (BAI) termasuk sangat cepat (>25 cm jam-1). Untuk tanah dengan
sifat seperti ini sistem irigasi luapan/genangan (surface irrigation)
kurang tepat untuk dilaksanakan, sedangkan yang lebih baik adalah sistem curah
terkendali (overhead irrigation), misalnya dengan cara pencaran (sprinkler).
Untuk budidaya padi sawah (paddy rice) agar sesuai dengan syarat pertumbuhannya, maka tindakan pelumpuran tanah dapat membantu
menekan nilai laju infiltrasi yang nisbi tinggi tersebut.
Nilai rerata laju infiltrasi tiap saat memberikan persamaan garis
eksponensial y = - 45,313 ln(x) + 110,02, dan R2 = 0,9931. Pada pengamatan
setelah 5 jam dan diprediksi berdasarkan persamaan tersebut diperoleh nilai
laju infiltrasi sebesar 37,09 cm jam-1, yang menurut klasifikasi BAI termasuk sangat cepat (very rapid). Kurve log-log
laju infiltrasi berupa persamaan garis lurus y = - 0,3316 x + 1,9623, dengan R2
= 0,9765.
2. Jenis tanah Litosol
Pada tanah ini kurve laju infiltrasi tiap saat diperoleh persamaan y = -
13,803 ln(x) + 57,727, dengan R 2 = 0,9595. Perhitungan berdasarkan hasil pengamatan setelah 5 jam, nilai laju infiltrasi yang diperoleh adalah
sebesar 35,51 cm jam-1, yang menurut klasifikasi BAI termasuk sangat cepat (very
rapid). Seperti halnya tanah Aluvial Kelabu, tanah Litosol ini lebih cocok untuk
irigasi curah terkendali dibandingkan cara luapan atau genangan. Untuk tanaman
padi sawah pelumpuran merupakan keharusan untuk menekan laju infiltrasi yang
masih relatif tinggi. Persamaan kurve log-log laju infiltrasi tiap saat y = -
0,2195 x + 2,044, dan R2 = 0,9389, sedangkan untuk Kurve log-log laju
infiltrasi kumulatif y = 0,6479 x + 3,7397 dengan R2 = 0,9709.
3. Jenis tanah Latosol dan Litosol
Kurve laju infiltrasi tiap saat menunjukkan persamaan eksponensial y = -
1,8564 ln(x) + 7,711, dengan nilai R2 = 0,5951. Jika kurve ini digunakan
untuk menghitung laju infiltrasi tiap saat setelah 5 jam pengamatan, maka
diperoleh nilai laju infiltrasi konstan sebesar 4,18 cm jam-1. Nilai sebesar
ini oleh BAI diklasifikasikan sebagai tingkat sedang (moderate).
4. Jenis tanah Mediteran dan Latosol
Hasil
penggambaran merupakan garis non-linier dengan persamaan y = - 0,6896 ln (x) +
6,3 dengan R2 = 0,5733. Pada waktu pengamatan kira-kira 5 jam setelah dimulai yang lajunya mendekati konstan diperoleh nilai laju
infiltrasi sebesar 5,19 cm jam-1, yang menurut klasifikasi BAI nilai ini
termasuk kategori sedang (moderate). Persamaan gabungan log-log laju
infiltrasi tiap saatnya adalah y = - 0,0933 x + 0,7709, R2 = 0,6974, sedangkan
persamaan gabungan laju infiltrasi kumulatifnya y = 0,4585 x + 1,9685, R2 =
0,96.( Anonim.2011)
.
E. Faktor-Faktor yang mempengaruhi
daya infiltrasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi daya infiltrasi antara lain :
a.
Dalamnya
genangan di atas permukaan tanah (surface detention) dan teba lapisan jenuh
b.
Kadar air dalam
tanah
c.
Pemampatan oleh
curah hujan
d.
Tumbuh-tumbuhan
e.
Karakteristik
hujan
f.
Kondisi-kondisi
permukaan tanah
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi antara lain :
1. Jenis permukaan tanah
2.
Cara pengolahan
lahan
3.
Kepadatan tanah
4.
Sifat dan jenis
tanaman( Anonim.2011).
F.Pengumpulan data
infiltrasi
Data infiltrasi dapat
dilakukan dengan tiga cara yakni:
• Inflow-outflow
• Analisis data hujan dan hidrograf
• Double ring inflometer( Knapp.1987).
• Inflow-outflow
• Analisis data hujan dan hidrograf
• Double ring inflometer( Knapp.1987).
III.METODE PRKTIKUM
A.Alat dan Bahan
Adapun yang menjadi alat pada praktikum
ini adalah sebagai berikut : Double ring, Stop
watch, ember, gayung dan camera. Sedangkan untuk bahannya yaitu air.
B.Cara Kerja
Berikut
adalah cara kerja pegukuran infiltrasi dilapangan dengan enggunakan doubel ring
1.
Menyiapkan bahan dan
alat yang diperlukan dalam praktikum
pegukuran infiltrasi
2.
Menaancapkan ring
sample dengan perlahan dengan bantuan papan diatas nya,kemudian ketok papan
tersebut dengan menggunakan martil hingga kedalaman ring sample.
3.
Kemudian mengambil
single ring ,dan tancapkan kedalam tanah posisikan ring sample ditengah-tengah
single ring
4.
Melakukan kerjaan ini
dengan baik jangan sampai mengganggu posisi daripada ring sample
5.
Mengisikanair kedalam ring sample hingga penuh.
6.
Hidupkan stop watch
untuk menghitung laju infiltrasi.
7.
Mencatat hail yang diperoleh dari praktikum ini setelah
melewati interval waktu(t) 5 menit.
8.
Melakukan pengulangan
sebnyak 10 kali samapi ketemu waktu yang kostan.
9. Membuat
laporan sementra.
IV.HASIL PENGAMTAN DAN PEMBAHASAN
A.Hasil Pengamatan
Berikut
adalah data hasil pengukuran laju infiltrsi:
|
No
|
Jenis
pohon
|
Percobaan
ke
|
t(waktu)
|
|
1
|
Bayur
|
1
|
17
detik
|
|
|
|
2
|
23
detik
|
|
|
|
3
|
28detik
|
|
|
|
4
|
1menit
16 detik
|
|
|
|
5
|
1menit40detik
|
|
|
|
6
|
1menit
46 detik
|
|
|
|
7
|
2menit
55detik
|
|
|
|
8
|
3menit
23 detik
|
|
|
|
9
|
3menit
27 detik
|
|
|
|
10
|
3menit
29 detik
|
|
2
|
Mahoni
|
1
|
1menit
2 detik
|
|
|
|
2
|
3menit
|
|
|
|
3
|
3menit
2 detik
|
|
|
|
4
|
3menit
4 detik
|
|
|
|
5
|
3menit
7detik
|
B. Pembahasan
Infiltrasi
adalah proses meresapnya air atau proses meresapnya air dari permukaan tanah
melalui pori-pori tanah. Praktikum ini dilakukan di lapangan sepak bola UNILA.
Infiltrasi dilakukan dibawah pohon yang kita amati. Untuk pengamatan ini
dilakukan dibawah pohon mahoni dan Bayur. Hal pertama yang dilakukan yaitu
menancapkan pipa kedalam tanah sedalam 1-2 cm, hal itu bertujuan agar air tidak
keluat dari sela-sela pipa. Setelah itu dengan perlahan menuangkan air kedlam
pipa baik pipa kecil maupun pipa besar. Infiltrasi yang dihitung yaitu pada
pipa kecil saja akan tetapi air yang ada di peipa besar harus tetap ada isi
airnya. Waktu menurunya air sampai kedalaman 5cm dari ujung pipa kecil dicacat
dengan menggunakan stopwatch, sehingga didapatkan hasinya yaitu : pada pohon
mahoni waktu pencatata 5 kali
pengulangan sampai waktu nya konstant yaitu 3 menit 4 detik. Sedangkan pada
pohon bayur dilakukan 10 kali pengulangan dengan waktu konstant 3 menit 26
detik. Hasil infiltrasi didapatkan dari ketebalan/ waktu dan didapatkan bahwa
hasil infiltrasi pada pohon mahoni 97,82 cm/jam, sedangkan pada pohon bayur
infiltrasinya sebesar 87,37 cm/jam.
Dari
hasil pengamatan yang telah dilakukan,
terdapat perbedaan laju infiltrasi antara kedua jenis pohon
tersebut. Hal yang demikian, karena
beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu vegetasi di permuaan tanah. Tanah di
atas tegakan bayur relatif memiliki pori-pori yang besar dan tekstur tanahnya
tidak baik dan relatif keras dan sedikit terdapat rerumputan. Sebaliknya untuk
di bawah tegakan mahoni, rumput sangat subur menghijau. Kedalaman genangan di atas permukaan tanah (surface detention) dan tebal lapisan jenuh. Pada pohon bayur genamgan air yan terjadi tidak
begitu dalam, sehingga tanah cepat jenuh. Selanjutnya kondisi permukaan tanah
sendiri, untuk pohon mahoni dalam keadaan baik, terbukti dengan banyak rumput
yang hijau sebaliknya tidak untuk tanah di bawah pohon bayur, yang sedikit
rumput.
IV.KESIMPULAN DAN SARAN
A.KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil
dari praktikum ini yaitu :
1.
Infiltrasi merupakan
penyerapan air oleh tanah yang berlangsung pada waktu tertentu, dan pengukuran
dapat dilakukan dengan Double ring inflometer . Kemudin laju infiltrasi untuk
disekitaran lapangan bola Universitas Lampung di pengaruhi oleh vegetasi di atas permukaan tanahnya.
2.
Infiltrasi
dibawah pohon mahoni yaitu 97,82 cm/jam, sedangkan dibawah pohon bayur yaitu 87,37
cm/jam.
B. Saran
Sebaiknya praktikum ini diawasi
oleh asisten dengan baik sehingga para praktikan tidak ada yang main-main pada
saat praktikum berjalan dan ilmu yang didapat saat praktikum dapat membantu
para praktikum untuk mengetahui laju infiltrasi yang terjadi pada suatu tanah
tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2009.http://sipil-inside.blogspot.com/2009/10/infiltrasi.html.pukul
10.00 hari senin tanggal 10 juni 2013.
Anonim.2011.http://sartikahikaru.blogspot.com/2011/10/laju-infiltrasi.html
diakses pukul 11.05. 10 juni 2013.
Anonim.2011.http://sartikahikaru.blogspot.com/2011/10/laju-infiltrasi.html.Diakses
pada senin 11.34 tanggal 10 juni 2013.
Anonim.2011.http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/54068/A11dnf-08-pendahuluan.pdf?sequence=10.Dikses
pada pukul 11.45. tanggal 10 juni 2013.
Arsyad,
S. 2006. Konservasi Tanah dan Air. Cetakan Kedua. Institut Pertanian
Bogor Press, Darmaga, Bogor.
Bambang
Triatmodjo. 2010. Hidrologi Terapan. Yogyakarta.
Knapp,
M. L. (1978). Social intercourse: From greeting to goodbye. Boston: Allyn &
Bacon.
